Categories
Muamalah

Mencari Rezeki

Bekerja Itu Ibadah

Mencari Rezeki Itu Ibadah

Mungkin banyak yang sudah mengetahui mengenai kata Rezeki Yang Baik. Akan tetapi masih banyak juga yang belum paham yang menyebabkan bekerja itu dikatakan sebagai ibadah.

Bahkan, kebanyakan orang hanya mengetahui bekerja itu hanya untuk mendapatkan uang bukan salah satu ibadah yang mendapatkan pahala.

Akan tetapi, hendaknya kita mencari nafkah dengan cara yang halal baik untuk diri sendiri maupun keluarga. 

Maksudnya adalah, hendaknya kita mampu memanfaatkan waktu tersebut, Untuk mengerahkan segala usaha dan upaya, supaya kita mampu bertahan hidup.

Dalam Al Quran surat Al Jumuah ayat 10 menjelaskan:

Apabila  shalat telah laksanakan, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi, carilah karunia Allah dan Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Bekerja dalam pengertian umum adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan hanya manusia biasa, bekerja juga menjadi kewajiban para nabi dan rasul utusan Allah. Nabi Adam adalah petani, Nabi Nuh tukang kayu, Nabi Idris seorang penjahit, Nabi Daud bekerja sebagai pandai besi, Nabi Ibrahim adalah pedagang pakaian, Nabi Musa sebagai buruh, dan Nabi Muhammad saw. adalah penggembala ternak penduduk Makkah. Bahkan, Nabi Sulaiman yang superkaya sekalipun juga bekerja membuat kerajinan dari tangan, lalu dijual.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat itu bahwa mereka (para rasul) adalah manusia. Mereka makan dan minum sebagaimana manusia yang lain serta memasuki pasar untuk mencari penghasilan dan berniaga.

Hal itu tidaklah merugikan mereka dan tidak mengurangi sedikit pun kedudukan mereka. Kalangan ulama berpendapat bahwa mereka berniaga dan memiliki keahlian (berwirausaha).

Secara umum, bekerja merupakan kewajiban yang dibebankan kepada semua umat manuasia agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, tidak kekurangan apalagi meminta-minta. 

Untuk mendapatkan rezeki yang barakah maka seorang harus melakukan pekerjaan (kerja) dengan cara-cara yang benar.

Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai akhlak muslim dalam bekerja..

Cari Berkah dalam Pekerjaan

Islam begitu menghargai orang yang bekerja. Tidak ada pekerjaan hina sepanjang dilakukan dengan halal. Islam juga tidak membedakan status dan jabatan. Sepanjang pekerjaan itu dilakukan dengan benar dan tidak merugikan orang lain, akan mendapat kemuliaan di sisi Allah. 

Sebaliknya, sebanyak apa pun harta yang diperoleh, setinggi apa pun jabatan yang diraih, jika diperolah dengan cara-cara culas, misalnya korupsi, kolusi, dan menzalimi orang lain, pekerjaan tersebut justru akan membawa malapetaka baginya. Rasulullah saw. menegaskan,

“Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan yang haram.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Niiatkan untuk beribadah

Niat menjadi hal yang penting dalam setiap langkah seorang mukmin. Dalam setiap aktivitasnya, seorang mukmin wajib mengorientasikan niatnya kepada Allah SWT. 

Sebab hanya Allah yang dapat memberikan balasan kebaikan dari setiap amal yang dikerjakan

Dalam Islam bekerja bukan semata urusan untuk mendapatkan materi guna memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga ibadah yang bernilai tinggi jika diniatkan secara benar untuk meraih ridha-Nya. Orang yang memiliki niat benar dalam bekerja, ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, dunia dan akhirat. 

Dalam bekerja seorang mukmin harus berniat untuk ibadah karena Allah. Seorang mukmin yang dalam bekerja berniat semata-mata karena Allah, mencari pahala dan sarana mendatangkan rezeki dari Allah akan hidup jauh lebih berkah, bahagia, dan tenang.

Barang siapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta dan berusaha untuk mencukupi keluarganya serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya) maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam Purnama “ (HR Thabrani)

Bekerja dengan profesional

Seringkali kalangan motivator menyebut bahwa kesuksesan akan menghampiri orang-orang yang profesional, berpikir positif, disiplin, jujur, dan mau bekerja keras. Beragam karakter tersebut hendaknya melekat dalam pribadi seorang muslim dalam aktivitas kerjanya. Dengan karakter-karakter positif tersebut ia akan menjadi pribadi yang bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga kepada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan para pegawai lainnya. Itulah yang disebut oleh Rasulullah saw. sebagai the best person. Sabdanya, 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” (HR Thabrani)

Menjauhi sifat Ujub  

Sudah menjadi tabiat manusia untuk merasa bangga jika ia memiliki status sosial tinggi di masyarakat. Apalagi jika status itu didapat dari pekerjaannya. Bahayanya, jika kebanggaan tersebut membuatnya gelap mata sehingga gampang bersikap sewenang-wenang dan menutup mata atas penderitaan orang lain. Seorang muslim hendaknya menjauhi perilaku negatif semacam itu. Setinggi apa pun status yang disandang, hendaklah tetap tawadhu, rendah hati, dan tidak sombong. 

Senantiasa Berdoa  dan Berusaha

Mencari pekerjaan yang baik di zaman sekarang ini cukup berat karena persaingan para pekerja yang makin banyak dan ketat. Bukan hanya lulusan sekolah tingkat atas, bahkan para sarjana banyak yang belum mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, selain dituntut untuk kreatif mencari peluang usaha, juga harus pandai menjalin koneksi dengan orang lain. 

Tetaplah berikhtiar, berdoa, dan bertawakal dengan melakukan banyak ibadah untuk mendekat kepada-Nya.

Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS ath-Thaläq [65]: 3)

Memberi informasi Positif

Bagi orang yang sudah bekerja di suatu tempat, sewaktu-waktu mungkin ia mendapat informasi tentang lowongan pekerjaan dari tempatnya bekerja. Bisa juga mendapat informasi lowongan dari orang lain. Alangkah mulianya jika informasi tersebut disampaikan kepada teman, saudara, atau tetangga yang belum mendapat pekerjaan. Perbuatan itu terkesan sederhana, tetapi bernilai mulia di sisi Allah karena secara tidak langsung ia telah berbuat baik kepada orang lain. “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain,” (HR Thabrani)

Semoga, adanya penjelasan mengenai bekerja adalah ibadah tersebut, membuat kita lebih semangat dan giat untuk mencari nafkah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT

Wallahu A’lam Bishawab