Categories
Akhlak Muamalah

Arti Ghibah, Hukum dan Contohnya

Ghibah

Memahami Arti Ghibah

Arti ghibah adalah perbuatan menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Dalam istilah sehari-hari yang paling populer adalah menggosip. 

Lisan manusia bukanlah lisan burung beo yang tidak memahami apa yang diucapkannya. sebab lisan manusia digerakan oleh akal, hati, mata dan telinganya. Semua itu dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dikatakan, disaksikan dan dilakukannya.

Perkataan apa saja yang bisa menggambarkan arti ghibah? Ghibah adalah segala perkataan yang menyebutkan aib seseorang baik badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya dan lain lain

Allah Berfirman:

Dan Janganlah kami mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban (Q.S Al-Isra’ [17] 36)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gibah artinya kegiatan membicarakan keburukan orang lain. Bahan gunjingan tersebut mestilah sesuai dengan cela orang yang digunjingkan, jika dibuat-buat, maka bukan gibah lagi namanya, melainkan fitnah dan kebohongan

Istilah arti ghibah atau gibah secara etimologi berdasarkan Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi arti ghibah atau gibah dapat dipahami, arti ghibah atau gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan.

Ghibah (Gibah ) adalah membicarakan keburukan orang lain tatkala orang yang dibicarakan tidak ada. Dalam Al-Quran, membicarakan keburukan orang lain (saat orangmya tidak ada) digambarkan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Allah Berfirman 

Hari orang orang yang beriman, jauhilah berbagai prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?, Maka tentulah kami merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang  (Q.S Al-Hujarat [49] : 12)

Rasulullah SAW bersabda

Jabir bin Abdillah dan Abu Sa’ad al khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda 

“Gibah itu lebih kejam dari Zina” seorang sahabat bertanya “Bagaimana mungkin Wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab “Seseorang berzina kemudian bertaubat, niscaya Allah S.W.T akan menerima taubatnya. Adapun orang yang menggunjing tidak akan diampuni dosanya sampai orang yang digunjing memaafkannya.

Pengertian gibah di atas disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata: 

“Tahukah kalian apa itu gibah?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Kemudian, beliau bersabda: 

‘Gibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci’. 

Ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?’ 

Rasulullah menjawab: 

‘Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnahnya [mengucapkan suatu kedustaan],” (H.R. Muslim).

Apabila seseorang mengetahui aib atau kekurangan saudaranya baik moral, fisik, pakaian, keluarga maupun yang lainnya dan ini memang benar adanya, maka itu dinamakan ghibah. 

Abu Dard’a ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa yang menggunjing seorang muslim dengan perkataan, sedangkan pembicaraan itu tidak sesuai dengan sebenarnya, Allah SWT berhak menghancurkan tubuhnya di neraka pada hari kiamat kelak hingga perkataan terbukti (dan pasti, ini tidak mungkin bisa dibuktikan)

Rasulullah bersabda “Barang siapa memelihara kehormatan saudaranya, Allah SWT akan mengutus malaikat di hari kiamat untuk memeliharanya dari api neraka”

Contoh Ghibah dalam Kehidupan Sehari-hari

Terdapat banyak contoh gibah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ibu-ibu menggunjing selama acara arisan tentang tetangga-tetangganya. 

Di kasus lain, bapak-bapak membicarakan keburukan rekan atau koleganya sewaktu ngumpul bersama sambil munum kopi.

Gibah juga dapat terjadi saat murid  membicarakan keburukan guru atau dosen atau atasannya  di ruang kelas ketika sosok yang digunjingkan tidak berada di sana. atau bawahan saling membicarakan keburukan atasanya.

Selain itu, di masa sekarang, gibah dapat terjadi dalam pelbagai bentuk, misalnya melalui tayangan Infotainment di televisi, sampai dengan akun gosip di media sosial

Cara Menghindari Ghibah atau Gibah

1. Mengingat Kebaikan

Sebelum membicarakan keburukan seseorang, alangkah baiknya jika mengingat kebaikan orang tersebut terlebih dahulu. Maka, keinginan untuk membicarakan keburukan seseorang perlahan akan menghilang karena paham bahwa sebagai manusia biasa, pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk.

2. Berpikir Positif

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, seseorang akan menolak dengan perlahan dan khusnudzon atau berprasangka baik terlebih dahulu kepada orang yang akan dibicarakan tersebut.

3. Saling Mengingatkan

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, maka sebagai seorang muslim yang baik hendaknya mengingatkan teman bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.

4. Perbanyak Istighfar

Seorang muslim hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala dosa yang ia sengaja maupun tidak disengaja. Memperbanyak istighfar akan membuat seseorang senantiasa mengingat segala dosanya dan menghindari gibah.

5. Berkumpul dengan Orang Saleh

Tidak dapat dipungkiri jika pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari seseorang. Maka agar terhindar dari pergaulan yang salah, ada baiknya seorang muslim harus memilih dengan siapa ia berkumpul.

6. Menjaga Lidah dan Lisan

Seseorang dapat gibah karena dirinya tidak bisa menjaga lidah dan mulutnya untuk berkata sesuatu yang baik. Ketika tahu apa yang akan dibicarakan merupakan hal yang buruk, lebih baik tidak usah dikatakan, supaya terhindar dari bahaya lisan.

7. Menyadari Perbuatan yang Buruk

Agar tidak melakukan gibah, seseorang harus menyadari bahwa gibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah karena keburukan yang didapat tidak hanya pada orang yang menjadi bahan pembicaraan melainkan juga pada si pelaku gibah.

8. Intropeksi Diri

Intropeksi diri akan membuat seseorang merasa malu jika harus membicarakan keburukan orang lain sedangkan diri sendiri masih memiliki banyak kesalahan yang harus dibenahi.

“Hidup adalah tentang saling mengingatkan bukan saling menyalahkan.”