Categories
Muamalah

Kehadiran anak

Kehadiran anak dalam keluarga

Kehadiran anak dalam keluarga merupakan suatu kebahagiaan yang tidak terkira. Sebab, di antara tujuan dibangunnya mahligai rumah tangga adalah untuk meneruskan keturunan (generasi) orang tuanya.

Oleh karena itu, ada sebagian orang tua berani membayar mahal, bahkan melakukan terapi apa saja untuk mendapatkan keturunan. Mereka menganggap bahwa hidup tidaklah indah tanpa kehadiran anak dalam keluarga.

Anak merpakan amanah yang diberikan Allah yang harus dijaga, dilindungi, disayangi, dan dididik agar menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Rasulullah saw bersabda :

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (bertauhid). Kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengamati sabda Rasulullah saw. di atas maka peran orang tua terhadap pembentukan karakter seorang anak sangatlah penting. Sayangnya, sebagian orang tua masa kini telah melupakan cara mendidik anak dengan bingkai-bingkai keagamaan. Apalagi perkembangan zaman yang diikuti oleh gaya hidup modern yang cenderung materialistis, membuat orang tua tidak lagi peduli dengan nilai-nilai keislaman.

Mendidik anak agar menjadi generasi yang shalih dan bermanfaat bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan perhatian penting dari orang tua dengan tinjauan dari berbagai aspek. Orang tua adalah pihak pertama dan utama dalam mengawal kehidupan anak-anaknya. Seolah-olah dikatakan bahwa anak yang baik dan buruk adalah sama-sama produk dari orang tuanya.

Dalam Islam cukup jelas perintah dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anaknya hingga kelak diharapkan menjadi pribadi yang unggul dan berakhlak mulia. 

Tugas orang tua kepada anak-anaknya.

Memberi nama yang baik

Salah satu kewajiban orang tua setelah anak lahir ke dunia adalah memberinya nama yang baik. Nama adalah doa. Nama yang baik akan memberi pengaruh psikologis pada anak, demikian juga nama yang buruk. Anak yang biasa dipanggil dengan nama panggilan Abdurrahman yang berarti hamba yang pemurah tentu berbeda dengan panggilan jahlun yang artinya bodoh sehingga ia mudah ditertawakan dan membuatnya rendah diri.

Melakukan aqiqah untuk anak

Secara bahasa, aqiqah berarti memutus (memotong). Ada yang menyebut aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih (dipotong). Menurut pendapat ulama, hukumnya sunah muakkadah. Banyak dalil yang menyebutkan anjuran aqiqah ini.  Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Menurut jumhur ulama, pelaksanaan aqiqah adalah hari ketujuh dari kelahiran. Namun, apabila terlewat dan tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, ia dapat dilaksanakan pada hari ke-14, ke-21, atau kapan saja ia mampu. Yang perlu diketahui bahwa prinsip ajaran Islam adalah memberi kemudahan, bukan kesukaran sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”” (QS al-Baqarah [2]: 185)

Mengkhitankan anak

Khitan berarti memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Dalam Islam, khitan merupakan bagian dari kesucian diri.  Rasulullah saw. bersabda,

“Fitrah itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalangan ulama berpendapat bahwa khitan wajib hukumnya bagi laki-laki, sementara bagi wanita sifatnya anjuran. Menurut Imam Nawawi, yang wajib dipotong pada wanita (saat khitan) adalah apa yang dikenal dengan sebutan kulit yang bentuknya seperti jengger ayam di atas saluran kencing. Pada umumnya, masyarakat mengkhitankan anaknya pada usia 6-11 tahun. Hal itu dipengaruhi oleh beragam tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Mengajarkan kelembutan 

Anak kecil yang lahir ke dunia diibaratkan seperti kertas putih yang kosong dan yang belum ditulisi, atau lebih dikenal dengan istilah Tabularsa (a blank sheet of paper). yang masih bersih dari noda. Dengan keadaan tersebut, sepatutnya orang tua mengisi nya dengan berperilaku lemah lembut terhadap mereka. Salah satu perilaku tersebut pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan memberi ciuman dan perlakukan istimewa kepada anak anak dan cucu-cucu beliau. Pada suatu hari Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali r.a. ketika ada al-Aqra bin Habis at-Tamimi di dekat beliau. Al-Aqra kemudian berkata, “Aku mempunyai sepuluh anak, tetapi aku tak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. kemudian memandangnya dan bersabda,

“Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.”

Hindarkan dari pergaulan buruk

Pergaulan dengan orang di luar keluarga ibarat rumah kedua yang dapat membentuk karakter anak. Jika pergaulan itu dipenuhi oleh komunitas orang yang senang berbuat buruk, lambat laun anak akan terkontaminasi. Anak yang terbiasa bergaul dengan lingkungan yang suka berbuat maksiat, lambat laun anak akan meniru perbuatan kawannya. Oleh karena itu, tugas orang tua adalah mengarahkan agar anak dapat memilih pergaulan yang dapat memberi pengaruh positif bagi kehidupannya. Rasulullah saw. mengingatkan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengenalkan agama dan tujuan hidupnya

Ketika anak sudah mampu mencerna mana hal yang baik dilakukan dan mana hal buruk yang harus ditinggalkan maka orang tua berkewajiban untuk mengenalkan anak kepada agamanya. Salah satunya adalah dengan mendirikan shalat. Rasulullah saw. berpesan,

“Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkan ia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah ia apabila meninggalkannya.” (HR Abu Dawud)

Mengenalkan pokok-pokok Islam sejak dini penting agar anak kelak memahami tujuan hidupnya saat ia dewasa. Setidaknya ia akan mengerti bahwa berada di alam dunia bukan untuk bersenang-senang dan menunggu ajal, tetapi ada tujuan mulia, yaitu penghambaan kepada Sang Pencipta.

Mendidik agar berbakti kepada orang tuanya

Pengorbanan orang tua kepada anak amatlah besar karena itu ada peribahasa yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang galah. Saat ibu mengandung selama sembilan bulan hingga mendekati kelahiran, nyawa ibu pun menjadi taruhannya. Oleh karena itu, di antara kewajiban orang tua yang utama adalah mendidik anak dan berbakti kepada mereka. Jangan sampai kelak dewasa anak menjadi sosok yang durhaka karena mengabaikan orang tuanya.

Tidak dimungkiri bahwa zaman globalisasi saaat ini banyak nilai kebajikan yang kian terkikis akibat pengaruh budaya yang sarat dengan virus kebebasan. Banyak anak yang lupa jasa orang tuanya. Bahkan, mereka selalu menuntut, tetapi enggan berbakti. Rasulullah saw. sampai mengingatkan sebagaimana yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa seseorang bisa masuk surga atau neraka sangat tergantung dari perlakuannya kepada mereka. Disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS Luqmān [31]: 14)

Memberi pendidikan yang bermutu

Beberapa dekade yang lalu jauh berbeda dengan saat ini dalam berbagai aspeknya. Apalagi kemajuan informasi dan teknologi yang mengalami lompatan begitu pesat. Selain memberikan bekal pendidikan agama yang memadai, orang tua hendaknya memberikan pendidikan bermutu yang terkait dengan ilmu duniawi kepada anak anaknya. Misalnya dengan menyekolahkan anak ke sekolah yang berkualitas, baik secara manajemen, sumber daya, fasilitas, maupun konsep pembelajaran di dalamnya. Jangan sampai orang tua memilihkan anaknya ke institusi yang di dalamnya terdapat pendidik yang tidak profesional atau lembaga pendidikan yang memiliki record buruk di masyarakat, seperti sekolah yang siswanya gemar narkoba dan tawuran.

Paling tidak, orang tua memahami misi dan visi institusi yang akan dipilihnya. Institusi (sekolah) yang bagus pasti memiliki misi dan visi jelas. Hal ini bisa diketahui lewat berbagai target-target pendidikan yang ingin dicapai, seperti spiritual (agama), akademis, ketrampilan, ataupun prestasi yang dihasilkan. Hindari terjebak pada sekolah yang hanya mengutamakan sisi akademis dan intelektual, sementara moralitas dan akhlak siswanya diabaikan.

Intitusi pendidikan yang bermutu, baik secara duniawi maupun ukhrawi akan memberi hasil yang baik pula pada anak dalam menjalani hidupnya di masa mendatang. Disebutkan dalam hadits,

“Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia maka ia harus mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menginginkan kebahagiaan akhirat maka ia harus mencapainya dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan kebahagiaan kedua-duanya maka ia harus mencapainya dengan ilmu.” (HR Thabrani)

Memupuk akhlakul karimah

Akhlak seorang anak tidak terbangun secara tiba-tiba, tetapi sangat dipengaruhi oleh bentukan lingkungan keluarganya. Seperti bagaimana adab saat makan, adab saat bergurau, adab terhadap kakak atau adik, adab buang hajat, cara berbicara dengan orang yang lebih tua, dan masih banyak lagi. Semua akhlak tersebut hendaknya dipupuk, dibiasakan, dan dibudayakan sejak dini. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan akhlak yang tidak terpuji. Perintah Rasulullah saw. sebagaimana tertuang dalam hadits beliau,

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)

Memberi keteladanan

Orang tua hendaknya tidak hanya pandai memerintah, tetapi juga memberi keteladanan yang positif kepada anaknya. Diperintahkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61]: 2-3)

Misalnya orang tua menyuruh anaknya shalat maka mereka (orang tua) juga melakukannya. Saat memerintahkan anak untuk bershadaqah maka orang tua juga melakukan hal itu. Orang tua memeritahkan anak untuk berdoa saat makan maka orang tuanya juga melakukan hal yang sama. Jika orang tua mempraktikkan apa yang diperintahkan kepada anaknya, secara tidak langsung orang tua telah memberikan contoh yang baik terlebih dahulu. Hal itu kelak akan menguatkan jejak rekam bagi anak bahwa orang tuanya adalah pribadi yang layak jadi teladan dalam hidupnya.

Wallahu a’lam bish-shawabi