AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Mengajak Kebaikan

Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar ma’ruf nahi munkar adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang berarti perintah untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah hal-hal yang buruk atau kemungkaran. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imrăn [3]: 110)

Melakukan amar ma’ruf merupakan kewajiban bagi seorang muslim, baik dengan tangan (kekuasaan yang dimiliki), lisannya (memberi nasihat), maupun yang paling rendah adalah dengan hatinya. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR Muslim)

Berikut penjelasan tentang menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Mengedepankan Kelembutan

Rasulullah saw. ketika menyampaikan kebenaran kepada umatnya selalu mengedepankan kelembutan dan kearifan. Beliau tidak serta-merta memvonis tanpa mengetahui sebab-sebab mengapa orang tersebut melakukan kemungkaran. Di lain waktu ada orang yang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang kebiasaan buruknya yang suka maksiat, minum khamar, dan berzina. Mendapat pengaduan itu, beliau tidak memarahinya, tetapi hanya memberi nasihat agar ia berbicara jujur. Resep itu manjur dan orang yang mengadu tersebut menghentikan aktivitas maksiatnya. Model amar ma’ruf seperti ini yang patut dicontoh, tidak mudah memvonis, tetapi memberi nasihat dengan bijaksana.

Menjauhi sikap saling permusuhan

Potensi konflik selalu saja ada dalam pergaulan antar kelompok dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menyampaikan kebenaran harus pandai melihat kondisi orang lain, termasuk di lingkungan mana ia berada. Misalnya, saat ia berada di lingkungan orang-orang yang memiliki watak dan karakter keras maka ia hendaknya menyampaikan menyampaikan kebenaran dengan sikap kelembutan. Ketika nilai nilai kebajikan yang disampaikan tidak mendapat tanggapan, jangan buru-buru naik pitam dan mengambil tindakan anarkis, tetapi imbangilah dengan kesabaran. Dengan demikian, potensi konflik bisa diredam. Rasulullah saw.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang ibarat satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

Memiliki akhlak yang mulia

Orang yang menyampaikan (menganjurkan) kebaikan hendaknya becermin dahulu pada dirinya sendiri. Artinya, kebaikan yang disampaikan kepada orang lain bukan sekadar teori, tetapi sebisa mungkin telah dipraktikkan sendiri oleh pelakunya. Bagaimana akan menyuruh orang lain shalat jika dirinya sering meninggalkan shalat? Bagaimana akan menasihati seorang pemabuk yang sebenarnya dirinya juga suka meminum minuman keras? Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61]: 2-3)

Menjaga toleransi antar umat

Toleransi secara terminologi berarti sikap saling menghargai pihak lain. Konteksnya cukup luas, termasuk menghargai orang lain dalam hal beribadah. Seorang muslim yang mengajak berbuat baik dan mencegah keburukan hendaknya tetap mengedepankan nilai-nilai toleransi. Misalnya, saat mengajak umat muslim makan sahur di bulan Ramadhan dengan membunyikan kentongan yang sangat keras. Aksi itu mungkin tujuannya baik di satu sisi, tetapi kurang tepat karena justru mengganggu kenikmatan tidur orang lain yang tidak berpuasa. Akan lebih mulia, misalnya, dengan membagi-bagikan bingkisan makanan untuk sahur kepada pengguna jalan raya.

Tidak semena-mena terhadap orang lain

Seorang yang hendak memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran seyogianya bersikap bijaksana, tidak mudah meluapkan amarah atau emosi sehingga dapat menzalimi pihak lain. Seperti melakukan perusakan tempat-tempat tertentu yang sebenarnya bukan menjadi sumber masalah. Atau melakukan aksi-aksi kekerasan fisik kepada pihak-pihak yang tidak terkait secara langsung dengan masalah yang sedang terjadi. 

Menyampaikan pada waktu yang tepat

Menasihati orang yang salah ketika dalam keadaan marah-marah mungkin kurang tepat karena bisa menimbulkan pertikaian yang lebih besar dan tidak menyelesaikan masalah. Namun, hendaklah memberinya nasihat di lain waktu, misalnya saat sedang santai, jauh lebih efektif. Tensi emosi seseorang pada kondisi tidak tegang dan cenderung stabil pada saat kondisi santai dan tenang sehingga mudah menerima rangsangan (nasihat) dari pihak luar. Dalam hal ini bukan berarti menunda-nunda memberi nasihat, tetapi harus tahu diri dan mampu menempatkan diri.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Share this:

Like Loading...
%d bloggers like this: