Categories
Akhlak Muamalah

Bacalah Agar Paham

reading

Tujuan membaca

Secara umum, tujuan membaca adalah untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui, atau untuk mencari dan memperoleh informasi. Maka perlu disadari bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, karena dengan membaca seseorang dapat menemukan sesuatu yang baru sehingga dapat memperluas wawasan dan pengetahuan pembaca.

Seperti yang kita tahu, membaca adalah jendela dunia yang membuka segala bentuk pengetahuan di dunia. Bayangkan jika kita terbiasa membaca, pastinya akan banyak hal yang kita peroleh. Selain itu, kebiasaan membaca juga dapat mengasah kecerdasan otak kita. Terbukti bahwa orang yang memiliki kebiasaan membaca pasti memiliki wawasan yang luas, hal itulah yang dapat menambah tingkat kecerdasan otak kita.

Bacaan adalah sumber informasi

Bacaan yang dimaksud di sini adalah sumber informasi yang dibaca, baik berupa buku, majalah, koran, media cetak, ebook maupun noncetak. 

Perintah pertama bagi umat muslim adalah iqra’  Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah saw adalah Surah al-‘Alaq 1-5, yang artinya

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sementara membaca buku atau bahan noncetak lainnya merupakan salah satu sarana menuntut ilmu.

Di negara maju kebiasaan membaca menjadi prioritas utama, bahkan menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Kebiasaan itu terbentuk karena telah terbangun paradigma bahwa membaca merupakan aktivitas yang penting bagi kehidupan manusia, sepenting makan dan minum.

Membaca telah mendorong seseorang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya dan mempelajari secara lebih mendalam sehingga memungkinkan memiliki ilmu pengetahuan, memperkaya intelektual, dan meningkatkan kesadaran mental dan spiritualnya.

Fakta orang yang gemar membaca

Faktanya, orang yang gemar mencari ilmu, pola pikirnya luas sehingga memiliki tujuan yang jelas dan fokus dalam hidupnya. Bukan seperti katak dalam tempurung, terkurung dalam ketidakberdayaan.

Sejarah kejayaan Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan pernah mengalami perkembangan luar biasa dengan lahirnya tokoh terkemuka dunia, seperti Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, al-Dinawari, al-Khawarizmi, al-Ghazali, Jabir Ibnu Aflah, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi tokoh muslim yang berjasa di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena sejak dulu para ulama, sejarawan, dan ilmuwan muslim adalah mereka yang selalu gemar membaca buku dan mencari bahan bacaan yang bermanfaat. Bahkan, di zaman Rasulullah saw. para tawanan dibebaskan dengan syarat bersedia mengajar umat muslim yang buta huruf agar mampu membaca.

Agar apa yang dibaca dapat menambah ilmu, membawa keberkahan akal, dan bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain, berikut diterangkan tentang akhlak seorang muslim terhadap sumber bacaan yang dibacanya.

Niatkan membaca untuk mencari ilmu

Membaca bisa di mana saja dan kapan saja, termasuk ketika seorang muslim berada di toko buku atau di damana saja berada bisa dirumah, dimobil, di mall, di sekolah, dimasjid maupun di cafe dll.. 

Dalam membaca perlu meniatkan untuk mencari ilmu sehingga apa yang dibaca tersebut menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat, minimal bagi dirinya sendiri dan sebaik mungkin dapat bermanfaat dengan menyebarkannya kepada orang lain. Disebutkan dalam hadits, 

”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Thabrani)

Membaca bacaan yang bertema Ukhrawi

Selain membaca bacaan yang terkait dengan masalah duniawi, bacaan yang bertema ukhrawi adalah permasalahan yang sangat penting. Saat ini bacaan yang bertema agama atau keislaman sangat mudah didapat dengan harga yang relatif terjangkau. Seorang muslim perlu membaca bacaan yang berkaitan dengan ibadah, akhlak, dan ketauhidan sebagai bekal untuk akhiratnya. Mungkin saja seseorang tidak tahu bagaimana cara membayar zakat karena ia belum pernah membaca tentang kadar zakat dan nishabnya. Ia tidak pernah shalat Tahajud karena belum pernah membaca tata cara melakukannya.. Dengan membaca bacaan yang bertema keislaman akan memudahkan seorang muslim menjalankan ibadahnya dengan sempurna.

Menghindari bacaan yang berisi fitnah 

Perkembangan media cetak maupun noncetak sangat pesat dewasa ini. Sebab, akses informasi yang nyaris tidak terbendung, mencari berbagai bacaan yang bertema negatif ataupun positif sangat mudah didapat. Utamanya melalui media dunia maya yang nyaris bebas hambatan. Informasi apa saja dapat dengan mudah diakses. Apa pun medianya seorang muslim sepatutnya menjauhi bacaan yang berisi tentang fitnah dan adu domba, terutama yang berkaitan erat dengan keadaan kaum muslimin di wilayah tertentu ataupun dalam lingkup global. 

Budayakan membaca di lingkungan keluarga

Kegemaran membaca umumnya muncul jika di lingkungan keluarga kebiasaaan itu sudah ditumbuhkan sejak dini. Antara orang tua yang biasa membaca dan orang tua yang tidak menggemari membaca memiliki pengaruh terhadap aktivitas dan perkembangan membaca anak-anaknya. Oleh karena itu, salah satu usaha agar anak-anak sejak dini gemar membaca adalah kewajiban orang tua untuk membudayakannya di lingkungan keluarga. Orang tua memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk kebiasaan anak. Jika orang tua menggunakan perannya dengan memberikan contoh yang baik dalam hal membaca-kelak anak akan menjadi generasi pembaca yang andal.

Membagikan bacaan kepada orang lain

Memiliki bacaan yang bermanfaat adalah peluang dalam mendulang pahala. Selain untuk dirinya sendiri, yaitu dengan memahami dan mengamalkan isi yang dibacanya, pahala juga didapat jika bacaan tersebut dipinjamkan kepada teman, saudara, atau tetangga. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mengajak ke arah kebaikan, ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka yang mencontohnya itu.” (HR Muslim)

Mewakafkan kepada lembaga Islam

Agar bacaan yang dimiliki dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas, seorang muslim bisa mewakafkannya kepada perpustakaan, masjid, atau lembaga tertentu yang memiliki minat (bersedia mengelola) bacaan yang akan diwakafkan. Itulah yang disebut amal jariah karena bacaan yang diwakafkan termasuk ilmu yang bermanfaat. Rasulullah saw. bersabda,

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu), shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR Muslim)

Seorang muslim akan selalu mendapat kiriman pahala meski sudah meninggal dunia selama bacaan yang diwakafkan memberi manfaat positif bagi siapa saja yang membacanya.

Wallahu A’lam Bishawab

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: