Categories
Akhlak

Emansipasi Wanita

emansipasi wanita

Menyikapi Emansipasi

Di era perkembangan zaman saat ini, kedudukan wanita makin penting dalam berbagai bidang kehidupan sehingga muncullah tuntutan yang mengharuskan adanya hak dan kewajiban yang sama antara kaum laki-laki dan wanita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). 

Sedangkan emansipasi wanita adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. 

Di Indonesia, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengingat perjuangan RA. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita

Salah satu persepsi publik paling popular adalah anggapan bahwa makna emansipasi wanita adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Makna emansipasi wanita sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria.

Kedudukan wanita dan laki-laki

Kedudukan wanita dan laki-laki telah dijelaskan secara komprehensif dalam Islam melalui Al-Qur’an. Islam sebagai rahmatan lil’alamin sejak dahulu telah mengangkat derajat wanita sebagai manusia yang mulia, sementara ukuran kemuliaan itu sendiri tercermin bukan pada aspek duniawi semata, tetapi utamanya menyangkut keimanan (ketakwaan)nya kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti,” (QS al-Hujurät (497: 13)

Di surah lain Allah juga menegaskan, “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl (16]: 97)

Beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa wanita memiliki posisi yang terhormat dalam Islam di berbagai aspek kehidupannya. Demikian agung kedudukan wanita hingga Allah menamakan salah satu surah dalam Al-Qur’an dengan nama an-Nisa’ yang artinya wanita. Dalam hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw, menganjurkan umatnya untuk berbakti kepada ibu-yang merupakan sosok wanita—3 kali dibanding seorang ayah. Bahkan, beliau juga menyebut tentang wanita-wanita yang menjadi ratu surga dalam beberapa kesempatan kepada para sahabatnya.

Label emansipasi yang berkembang dewasa ini memiliki batasan yang tidak boleh dicampuradukkan sehingga perlu penyikapan yang tepat tentang hakikat emansipasi yang sebenarnya. Konsep emansipasi wanita harus dilihat dari berbagai aspek, selain aspek terpenuhinya tuntutan atas hak-haknya juga harus dilihat aspek kewajibannya. Sebab, tidak sedikit konsep emansipasi yang seolah olah memperjuangkan kaum wanita, tetapi justru merendahkan kedudukan wanita. 

Berikut penjelasan tentang bagaimana akhlak wanita muslimah dalam menyikapi emansipasi yang berkembang dalam masyarakat.

Tetap menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ibu

Emansipasi bukanlah persamaan antara laki-laki dan wanita secara mutlak (absolut), tetapi tetap ada batasannya. Wanita tidak dilarang menuntut ilmu setinggi langit hingga menyamai kaum laki-laki. Wanita tidak dilarang menjadi manager perusahaan sebagaimana lazimnya dijabat oleh laki-laki. Wanita juga tidak dilarang menjadi orang kaya. Namun, dengan keadaannya itu, wanita tetaplah sosok yang memiliki tugas dan kewajiban yang terkait erat dengan martabat kewanitaannya. Misalnya, menjadi ibu yang mengasuh anak-anaknya dan melayani serta berbakti kepada suaminya selaku kepala rumah tangga. Semua tugas tersebut tidaklah gugur atas dasar apa pun termasuk dengan dalih emansipasi. 

Allah berfurman, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allan) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS an-Nisā’ [4]: 34)

Izin suami jika keluar rumah

Seorang istri yang baik adalah yang selalu menaati suaminya dalam bingkai yang benar. Artinya, tidak bertentangan atau melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya sekalipun terhadap sesuatu yang sifatnya kecil dan sepele seperti keluar rumah. Seorang istri hendaknya tetap meminta izin suami jika akan keluar rumah. 

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari Akhirat untuk keluar tiga hari ke atas melainkan bersama-sama bapaknya atau saudara kandung laki-lakinya atau suaminya atau anak laki-lakinya atau para mahramnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menutup aurat bagi yang sudah balig

Perkembangan tren fashion dewasa ini makin pesat. Hal itu dibarengi dengan munculnya beragam model busana yang ‘serba ada! Mulai yang menutup aurat hingga sekadar menutup bagian tubuh yang sensitif. 

Seorang muslimah hendaknya tidak melihat hal itu sebagai dalih untuk berpakaian sesuai selera. Jika para laki-laki bisa berpakaian bebas maka wanita pun berhak berpakaian secara bebas pula, bukan demikian. 

Parahnya alasan semacam itu dianggap sebagai bagian emansipasi wanita dalam hal berbusana. Padahal, menutup aurat bagi wanita yang sudah balig adalah wajib hukumnya. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS al-Ahzāb [33]: 59) »

Taat suami dalam kebenaran

Ketaatan seorang istri kepada suami adalah mutlak jika berada dalam kebenaran. Seorang istri hendaknya tidak menyelisihi suami meskipun memiliki tingkat pendidikan atau penghasilan yang lebih tinggi, bukan malah menolak (membangkang) dengan dalih emansipasi. Jika suami memerintahkan suatu kebaikan, seorang istri sepatutnya mematuhi. Itulah yang dikatakan Rasulullah saw. sebaik-baik wanita.

Ada yang bertanya kepada beliau, “Siapakah sebaik-baik wanita?” Beliau menjawab, “Yaitu yang menyenangkan apabila dilihat oleh suaminya, yang menaati apabila diperintah oleh suaminya, dan tidak menyelisihi dalam hal dirinya dan hartanya atas perkara yang dibenci oleh suaminya.” (HR Nasa’i)

Tidak mengubah kodratnya sebagai seorang wanita

Dalih emansipasi seringkali dijadikan tameng untuk menuntut persamaan dengan kaum laki-laki, termasuk dalam hal kodrat kewanitaan. Banyak wanita yang melupakan kodratnya sebagai makhluk yang lemah lembut dan pemalu. Bahkan, mereka banyak yang ingin menyamai kaum laki-laki dalam hal dandanan dan perilaku. Ada juga yang melakukan operasi atau tindakan medis agar bisa memiliki anatomi yang mirip dengan lawan jenisnya. Itulah yang dilarang oleh Islam. 

Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. (HR Bukhari)

Dalam hadits lain dikatakan, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat. Pertama, seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Kedua, wanita yang menyerupai laki-laki. Ketiga, suami (ayah) yang membiarkan kemungkaran dalam keluarganya.” (HR Nasa’i dan Ahmad) 1

Tidak bertingkah laku seperti orang jahiliah

Akar istilah jahiliyyah adalah bentuk kata kerja jahala, yang berarti menjadi bodoh, bersikap masa bodoh, atau tidak peduli. Pada masa jahiliyah martabat wanita memang sangat rendah karena tingkah laku mereka tidak mencerminkan nilai nilai kemuliaan. 

Mereka terbiasa membuka aurat di hadapan orang banyak (bukan mahram), bersuara kasar, berdandan agar dikagumi, berpesta pora, foya-foya, lesbi, hidup konsumtif, dan hedonis, serta tidak malu berbuat maksiat. 

Di negara-negara barat dan Eropa yang sekuler, konsep hidup jahiliyah semacam itu telah menjadi tren. Bahkan, para wanita memiliki hak absolut terhadap segala kondisi hidupnya. Andai telanjang di jalanan pun, mereka mengatakan bahwa itu adalah haknya, selama tidak merugikan orang lain, bukan masalah. 

Perilaku jahiliyah tersebut tentu tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari emansipasi, di mana wanita memiliki kebebasan untuk bertindak sesuka hatinya tanpa batasan moral. 

Allah memerintahkan, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu.” (QS al-Ahzāb [33]: 33)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: