Categories
Akhlak Muamalah

Arti Ghibah, Hukum dan Contohnya

Ghibah

Memahami Arti Ghibah

Arti ghibah adalah perbuatan menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Dalam istilah sehari-hari yang paling populer adalah menggosip. 

Lisan manusia bukanlah lisan burung beo yang tidak memahami apa yang diucapkannya. sebab lisan manusia digerakan oleh akal, hati, mata dan telinganya. Semua itu dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dikatakan, disaksikan dan dilakukannya.

Perkataan apa saja yang bisa menggambarkan arti ghibah? Ghibah adalah segala perkataan yang menyebutkan aib seseorang baik badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya dan lain lain

Allah Berfirman:

Dan Janganlah kami mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban (Q.S Al-Isra’ [17] 36)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gibah artinya kegiatan membicarakan keburukan orang lain. Bahan gunjingan tersebut mestilah sesuai dengan cela orang yang digunjingkan, jika dibuat-buat, maka bukan gibah lagi namanya, melainkan fitnah dan kebohongan

Istilah arti ghibah atau gibah secara etimologi berdasarkan Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi arti ghibah atau gibah dapat dipahami, arti ghibah atau gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan.

Ghibah (Gibah ) adalah membicarakan keburukan orang lain tatkala orang yang dibicarakan tidak ada. Dalam Al-Quran, membicarakan keburukan orang lain (saat orangmya tidak ada) digambarkan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Allah Berfirman 

Hari orang orang yang beriman, jauhilah berbagai prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?, Maka tentulah kami merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang  (Q.S Al-Hujarat [49] : 12)

Rasulullah SAW bersabda

Jabir bin Abdillah dan Abu Sa’ad al khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda 

“Gibah itu lebih kejam dari Zina” seorang sahabat bertanya “Bagaimana mungkin Wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab “Seseorang berzina kemudian bertaubat, niscaya Allah S.W.T akan menerima taubatnya. Adapun orang yang menggunjing tidak akan diampuni dosanya sampai orang yang digunjing memaafkannya.

Pengertian gibah di atas disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata: 

“Tahukah kalian apa itu gibah?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Kemudian, beliau bersabda: 

‘Gibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci’. 

Ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?’ 

Rasulullah menjawab: 

‘Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnahnya [mengucapkan suatu kedustaan],” (H.R. Muslim).

Apabila seseorang mengetahui aib atau kekurangan saudaranya baik moral, fisik, pakaian, keluarga maupun yang lainnya dan ini memang benar adanya, maka itu dinamakan ghibah. 

Abu Dard’a ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa yang menggunjing seorang muslim dengan perkataan, sedangkan pembicaraan itu tidak sesuai dengan sebenarnya, Allah SWT berhak menghancurkan tubuhnya di neraka pada hari kiamat kelak hingga perkataan terbukti (dan pasti, ini tidak mungkin bisa dibuktikan)

Rasulullah bersabda “Barang siapa memelihara kehormatan saudaranya, Allah SWT akan mengutus malaikat di hari kiamat untuk memeliharanya dari api neraka”

Contoh Ghibah dalam Kehidupan Sehari-hari

Terdapat banyak contoh gibah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ibu-ibu menggunjing selama acara arisan tentang tetangga-tetangganya. 

Di kasus lain, bapak-bapak membicarakan keburukan rekan atau koleganya sewaktu ngumpul bersama sambil munum kopi.

Gibah juga dapat terjadi saat murid  membicarakan keburukan guru atau dosen atau atasannya  di ruang kelas ketika sosok yang digunjingkan tidak berada di sana. atau bawahan saling membicarakan keburukan atasanya.

Selain itu, di masa sekarang, gibah dapat terjadi dalam pelbagai bentuk, misalnya melalui tayangan Infotainment di televisi, sampai dengan akun gosip di media sosial

Cara Menghindari Ghibah atau Gibah

1. Mengingat Kebaikan

Sebelum membicarakan keburukan seseorang, alangkah baiknya jika mengingat kebaikan orang tersebut terlebih dahulu. Maka, keinginan untuk membicarakan keburukan seseorang perlahan akan menghilang karena paham bahwa sebagai manusia biasa, pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk.

2. Berpikir Positif

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, seseorang akan menolak dengan perlahan dan khusnudzon atau berprasangka baik terlebih dahulu kepada orang yang akan dibicarakan tersebut.

3. Saling Mengingatkan

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, maka sebagai seorang muslim yang baik hendaknya mengingatkan teman bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.

4. Perbanyak Istighfar

Seorang muslim hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala dosa yang ia sengaja maupun tidak disengaja. Memperbanyak istighfar akan membuat seseorang senantiasa mengingat segala dosanya dan menghindari gibah.

5. Berkumpul dengan Orang Saleh

Tidak dapat dipungkiri jika pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari seseorang. Maka agar terhindar dari pergaulan yang salah, ada baiknya seorang muslim harus memilih dengan siapa ia berkumpul.

6. Menjaga Lidah dan Lisan

Seseorang dapat gibah karena dirinya tidak bisa menjaga lidah dan mulutnya untuk berkata sesuatu yang baik. Ketika tahu apa yang akan dibicarakan merupakan hal yang buruk, lebih baik tidak usah dikatakan, supaya terhindar dari bahaya lisan.

7. Menyadari Perbuatan yang Buruk

Agar tidak melakukan gibah, seseorang harus menyadari bahwa gibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah karena keburukan yang didapat tidak hanya pada orang yang menjadi bahan pembicaraan melainkan juga pada si pelaku gibah.

8. Intropeksi Diri

Intropeksi diri akan membuat seseorang merasa malu jika harus membicarakan keburukan orang lain sedangkan diri sendiri masih memiliki banyak kesalahan yang harus dibenahi.

“Hidup adalah tentang saling mengingatkan bukan saling menyalahkan.”

Categories
Muamalah

Mencari Rezeki

Bekerja Itu Ibadah

Mencari Rezeki Itu Ibadah

Mungkin banyak yang sudah mengetahui mengenai kata Rezeki Yang Baik. Akan tetapi masih banyak juga yang belum paham yang menyebabkan bekerja itu dikatakan sebagai ibadah.

Bahkan, kebanyakan orang hanya mengetahui bekerja itu hanya untuk mendapatkan uang bukan salah satu ibadah yang mendapatkan pahala.

Akan tetapi, hendaknya kita mencari nafkah dengan cara yang halal baik untuk diri sendiri maupun keluarga. 

Maksudnya adalah, hendaknya kita mampu memanfaatkan waktu tersebut, Untuk mengerahkan segala usaha dan upaya, supaya kita mampu bertahan hidup.

Dalam Al Quran surat Al Jumuah ayat 10 menjelaskan:

Apabila  shalat telah laksanakan, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi, carilah karunia Allah dan Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Bekerja dalam pengertian umum adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan hanya manusia biasa, bekerja juga menjadi kewajiban para nabi dan rasul utusan Allah. Nabi Adam adalah petani, Nabi Nuh tukang kayu, Nabi Idris seorang penjahit, Nabi Daud bekerja sebagai pandai besi, Nabi Ibrahim adalah pedagang pakaian, Nabi Musa sebagai buruh, dan Nabi Muhammad saw. adalah penggembala ternak penduduk Makkah. Bahkan, Nabi Sulaiman yang superkaya sekalipun juga bekerja membuat kerajinan dari tangan, lalu dijual.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat itu bahwa mereka (para rasul) adalah manusia. Mereka makan dan minum sebagaimana manusia yang lain serta memasuki pasar untuk mencari penghasilan dan berniaga.

Hal itu tidaklah merugikan mereka dan tidak mengurangi sedikit pun kedudukan mereka. Kalangan ulama berpendapat bahwa mereka berniaga dan memiliki keahlian (berwirausaha).

Secara umum, bekerja merupakan kewajiban yang dibebankan kepada semua umat manuasia agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, tidak kekurangan apalagi meminta-minta. 

Untuk mendapatkan rezeki yang barakah maka seorang harus melakukan pekerjaan (kerja) dengan cara-cara yang benar.

Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai akhlak muslim dalam bekerja..

Cari Berkah dalam Pekerjaan

Islam begitu menghargai orang yang bekerja. Tidak ada pekerjaan hina sepanjang dilakukan dengan halal. Islam juga tidak membedakan status dan jabatan. Sepanjang pekerjaan itu dilakukan dengan benar dan tidak merugikan orang lain, akan mendapat kemuliaan di sisi Allah. 

Sebaliknya, sebanyak apa pun harta yang diperoleh, setinggi apa pun jabatan yang diraih, jika diperolah dengan cara-cara culas, misalnya korupsi, kolusi, dan menzalimi orang lain, pekerjaan tersebut justru akan membawa malapetaka baginya. Rasulullah saw. menegaskan,

“Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan yang haram.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Niiatkan untuk beribadah

Niat menjadi hal yang penting dalam setiap langkah seorang mukmin. Dalam setiap aktivitasnya, seorang mukmin wajib mengorientasikan niatnya kepada Allah SWT. 

Sebab hanya Allah yang dapat memberikan balasan kebaikan dari setiap amal yang dikerjakan

Dalam Islam bekerja bukan semata urusan untuk mendapatkan materi guna memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga ibadah yang bernilai tinggi jika diniatkan secara benar untuk meraih ridha-Nya. Orang yang memiliki niat benar dalam bekerja, ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, dunia dan akhirat. 

Dalam bekerja seorang mukmin harus berniat untuk ibadah karena Allah. Seorang mukmin yang dalam bekerja berniat semata-mata karena Allah, mencari pahala dan sarana mendatangkan rezeki dari Allah akan hidup jauh lebih berkah, bahagia, dan tenang.

Barang siapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta dan berusaha untuk mencukupi keluarganya serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya) maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam Purnama “ (HR Thabrani)

Bekerja dengan profesional

Seringkali kalangan motivator menyebut bahwa kesuksesan akan menghampiri orang-orang yang profesional, berpikir positif, disiplin, jujur, dan mau bekerja keras. Beragam karakter tersebut hendaknya melekat dalam pribadi seorang muslim dalam aktivitas kerjanya. Dengan karakter-karakter positif tersebut ia akan menjadi pribadi yang bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga kepada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan para pegawai lainnya. Itulah yang disebut oleh Rasulullah saw. sebagai the best person. Sabdanya, 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” (HR Thabrani)

Menjauhi sifat Ujub  

Sudah menjadi tabiat manusia untuk merasa bangga jika ia memiliki status sosial tinggi di masyarakat. Apalagi jika status itu didapat dari pekerjaannya. Bahayanya, jika kebanggaan tersebut membuatnya gelap mata sehingga gampang bersikap sewenang-wenang dan menutup mata atas penderitaan orang lain. Seorang muslim hendaknya menjauhi perilaku negatif semacam itu. Setinggi apa pun status yang disandang, hendaklah tetap tawadhu, rendah hati, dan tidak sombong. 

Senantiasa Berdoa  dan Berusaha

Mencari pekerjaan yang baik di zaman sekarang ini cukup berat karena persaingan para pekerja yang makin banyak dan ketat. Bukan hanya lulusan sekolah tingkat atas, bahkan para sarjana banyak yang belum mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, selain dituntut untuk kreatif mencari peluang usaha, juga harus pandai menjalin koneksi dengan orang lain. 

Tetaplah berikhtiar, berdoa, dan bertawakal dengan melakukan banyak ibadah untuk mendekat kepada-Nya.

Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS ath-Thaläq [65]: 3)

Memberi informasi Positif

Bagi orang yang sudah bekerja di suatu tempat, sewaktu-waktu mungkin ia mendapat informasi tentang lowongan pekerjaan dari tempatnya bekerja. Bisa juga mendapat informasi lowongan dari orang lain. Alangkah mulianya jika informasi tersebut disampaikan kepada teman, saudara, atau tetangga yang belum mendapat pekerjaan. Perbuatan itu terkesan sederhana, tetapi bernilai mulia di sisi Allah karena secara tidak langsung ia telah berbuat baik kepada orang lain. “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain,” (HR Thabrani)

Semoga, adanya penjelasan mengenai bekerja adalah ibadah tersebut, membuat kita lebih semangat dan giat untuk mencari nafkah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT

Wallahu A’lam Bishawab

 

Categories
Akhlak Muamalah

Bacalah Agar Paham

reading

Tujuan membaca

Secara umum, tujuan membaca adalah untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui, atau untuk mencari dan memperoleh informasi. Maka perlu disadari bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, karena dengan membaca seseorang dapat menemukan sesuatu yang baru sehingga dapat memperluas wawasan dan pengetahuan pembaca.

Seperti yang kita tahu, membaca adalah jendela dunia yang membuka segala bentuk pengetahuan di dunia. Bayangkan jika kita terbiasa membaca, pastinya akan banyak hal yang kita peroleh. Selain itu, kebiasaan membaca juga dapat mengasah kecerdasan otak kita. Terbukti bahwa orang yang memiliki kebiasaan membaca pasti memiliki wawasan yang luas, hal itulah yang dapat menambah tingkat kecerdasan otak kita.

Bacaan adalah sumber informasi

Bacaan yang dimaksud di sini adalah sumber informasi yang dibaca, baik berupa buku, majalah, koran, media cetak, ebook maupun noncetak. 

Perintah pertama bagi umat muslim adalah iqra’  Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah saw adalah Surah al-‘Alaq 1-5, yang artinya

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sementara membaca buku atau bahan noncetak lainnya merupakan salah satu sarana menuntut ilmu.

Di negara maju kebiasaan membaca menjadi prioritas utama, bahkan menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Kebiasaan itu terbentuk karena telah terbangun paradigma bahwa membaca merupakan aktivitas yang penting bagi kehidupan manusia, sepenting makan dan minum.

Membaca telah mendorong seseorang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya dan mempelajari secara lebih mendalam sehingga memungkinkan memiliki ilmu pengetahuan, memperkaya intelektual, dan meningkatkan kesadaran mental dan spiritualnya.

Fakta orang yang gemar membaca

Faktanya, orang yang gemar mencari ilmu, pola pikirnya luas sehingga memiliki tujuan yang jelas dan fokus dalam hidupnya. Bukan seperti katak dalam tempurung, terkurung dalam ketidakberdayaan.

Sejarah kejayaan Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan pernah mengalami perkembangan luar biasa dengan lahirnya tokoh terkemuka dunia, seperti Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, al-Dinawari, al-Khawarizmi, al-Ghazali, Jabir Ibnu Aflah, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi tokoh muslim yang berjasa di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena sejak dulu para ulama, sejarawan, dan ilmuwan muslim adalah mereka yang selalu gemar membaca buku dan mencari bahan bacaan yang bermanfaat. Bahkan, di zaman Rasulullah saw. para tawanan dibebaskan dengan syarat bersedia mengajar umat muslim yang buta huruf agar mampu membaca.

Agar apa yang dibaca dapat menambah ilmu, membawa keberkahan akal, dan bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain, berikut diterangkan tentang akhlak seorang muslim terhadap sumber bacaan yang dibacanya.

Niatkan membaca untuk mencari ilmu

Membaca bisa di mana saja dan kapan saja, termasuk ketika seorang muslim berada di toko buku atau di damana saja berada bisa dirumah, dimobil, di mall, di sekolah, dimasjid maupun di cafe dll.. 

Dalam membaca perlu meniatkan untuk mencari ilmu sehingga apa yang dibaca tersebut menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat, minimal bagi dirinya sendiri dan sebaik mungkin dapat bermanfaat dengan menyebarkannya kepada orang lain. Disebutkan dalam hadits, 

”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Thabrani)

Membaca bacaan yang bertema Ukhrawi

Selain membaca bacaan yang terkait dengan masalah duniawi, bacaan yang bertema ukhrawi adalah permasalahan yang sangat penting. Saat ini bacaan yang bertema agama atau keislaman sangat mudah didapat dengan harga yang relatif terjangkau. Seorang muslim perlu membaca bacaan yang berkaitan dengan ibadah, akhlak, dan ketauhidan sebagai bekal untuk akhiratnya. Mungkin saja seseorang tidak tahu bagaimana cara membayar zakat karena ia belum pernah membaca tentang kadar zakat dan nishabnya. Ia tidak pernah shalat Tahajud karena belum pernah membaca tata cara melakukannya.. Dengan membaca bacaan yang bertema keislaman akan memudahkan seorang muslim menjalankan ibadahnya dengan sempurna.

Menghindari bacaan yang berisi fitnah 

Perkembangan media cetak maupun noncetak sangat pesat dewasa ini. Sebab, akses informasi yang nyaris tidak terbendung, mencari berbagai bacaan yang bertema negatif ataupun positif sangat mudah didapat. Utamanya melalui media dunia maya yang nyaris bebas hambatan. Informasi apa saja dapat dengan mudah diakses. Apa pun medianya seorang muslim sepatutnya menjauhi bacaan yang berisi tentang fitnah dan adu domba, terutama yang berkaitan erat dengan keadaan kaum muslimin di wilayah tertentu ataupun dalam lingkup global. 

Budayakan membaca di lingkungan keluarga

Kegemaran membaca umumnya muncul jika di lingkungan keluarga kebiasaaan itu sudah ditumbuhkan sejak dini. Antara orang tua yang biasa membaca dan orang tua yang tidak menggemari membaca memiliki pengaruh terhadap aktivitas dan perkembangan membaca anak-anaknya. Oleh karena itu, salah satu usaha agar anak-anak sejak dini gemar membaca adalah kewajiban orang tua untuk membudayakannya di lingkungan keluarga. Orang tua memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk kebiasaan anak. Jika orang tua menggunakan perannya dengan memberikan contoh yang baik dalam hal membaca-kelak anak akan menjadi generasi pembaca yang andal.

Membagikan bacaan kepada orang lain

Memiliki bacaan yang bermanfaat adalah peluang dalam mendulang pahala. Selain untuk dirinya sendiri, yaitu dengan memahami dan mengamalkan isi yang dibacanya, pahala juga didapat jika bacaan tersebut dipinjamkan kepada teman, saudara, atau tetangga. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mengajak ke arah kebaikan, ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka yang mencontohnya itu.” (HR Muslim)

Mewakafkan kepada lembaga Islam

Agar bacaan yang dimiliki dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas, seorang muslim bisa mewakafkannya kepada perpustakaan, masjid, atau lembaga tertentu yang memiliki minat (bersedia mengelola) bacaan yang akan diwakafkan. Itulah yang disebut amal jariah karena bacaan yang diwakafkan termasuk ilmu yang bermanfaat. Rasulullah saw. bersabda,

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu), shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR Muslim)

Seorang muslim akan selalu mendapat kiriman pahala meski sudah meninggal dunia selama bacaan yang diwakafkan memberi manfaat positif bagi siapa saja yang membacanya.

Wallahu A’lam Bishawab

 

 

Categories
Muamalah

Menyampaikan Kebenaran

AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Mengajak Kebaikan

Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar ma’ruf nahi munkar adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang berarti perintah untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah hal-hal yang buruk atau kemungkaran. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imrăn [3]: 110)

Melakukan amar ma’ruf merupakan kewajiban bagi seorang muslim, baik dengan tangan (kekuasaan yang dimiliki), lisannya (memberi nasihat), maupun yang paling rendah adalah dengan hatinya. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR Muslim)

Berikut penjelasan tentang menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Mengedepankan Kelembutan

Rasulullah saw. ketika menyampaikan kebenaran kepada umatnya selalu mengedepankan kelembutan dan kearifan. Beliau tidak serta-merta memvonis tanpa mengetahui sebab-sebab mengapa orang tersebut melakukan kemungkaran. Di lain waktu ada orang yang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang kebiasaan buruknya yang suka maksiat, minum khamar, dan berzina. Mendapat pengaduan itu, beliau tidak memarahinya, tetapi hanya memberi nasihat agar ia berbicara jujur. Resep itu manjur dan orang yang mengadu tersebut menghentikan aktivitas maksiatnya. Model amar ma’ruf seperti ini yang patut dicontoh, tidak mudah memvonis, tetapi memberi nasihat dengan bijaksana.

Menjauhi sikap saling permusuhan

Potensi konflik selalu saja ada dalam pergaulan antar kelompok dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menyampaikan kebenaran harus pandai melihat kondisi orang lain, termasuk di lingkungan mana ia berada. Misalnya, saat ia berada di lingkungan orang-orang yang memiliki watak dan karakter keras maka ia hendaknya menyampaikan menyampaikan kebenaran dengan sikap kelembutan. Ketika nilai nilai kebajikan yang disampaikan tidak mendapat tanggapan, jangan buru-buru naik pitam dan mengambil tindakan anarkis, tetapi imbangilah dengan kesabaran. Dengan demikian, potensi konflik bisa diredam. Rasulullah saw.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang ibarat satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

Memiliki akhlak yang mulia

Orang yang menyampaikan (menganjurkan) kebaikan hendaknya becermin dahulu pada dirinya sendiri. Artinya, kebaikan yang disampaikan kepada orang lain bukan sekadar teori, tetapi sebisa mungkin telah dipraktikkan sendiri oleh pelakunya. Bagaimana akan menyuruh orang lain shalat jika dirinya sering meninggalkan shalat? Bagaimana akan menasihati seorang pemabuk yang sebenarnya dirinya juga suka meminum minuman keras? Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61]: 2-3)

Menjaga toleransi antar umat

Toleransi secara terminologi berarti sikap saling menghargai pihak lain. Konteksnya cukup luas, termasuk menghargai orang lain dalam hal beribadah. Seorang muslim yang mengajak berbuat baik dan mencegah keburukan hendaknya tetap mengedepankan nilai-nilai toleransi. Misalnya, saat mengajak umat muslim makan sahur di bulan Ramadhan dengan membunyikan kentongan yang sangat keras. Aksi itu mungkin tujuannya baik di satu sisi, tetapi kurang tepat karena justru mengganggu kenikmatan tidur orang lain yang tidak berpuasa. Akan lebih mulia, misalnya, dengan membagi-bagikan bingkisan makanan untuk sahur kepada pengguna jalan raya.

Tidak semena-mena terhadap orang lain

Seorang yang hendak memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran seyogianya bersikap bijaksana, tidak mudah meluapkan amarah atau emosi sehingga dapat menzalimi pihak lain. Seperti melakukan perusakan tempat-tempat tertentu yang sebenarnya bukan menjadi sumber masalah. Atau melakukan aksi-aksi kekerasan fisik kepada pihak-pihak yang tidak terkait secara langsung dengan masalah yang sedang terjadi. 

Menyampaikan pada waktu yang tepat

Menasihati orang yang salah ketika dalam keadaan marah-marah mungkin kurang tepat karena bisa menimbulkan pertikaian yang lebih besar dan tidak menyelesaikan masalah. Namun, hendaklah memberinya nasihat di lain waktu, misalnya saat sedang santai, jauh lebih efektif. Tensi emosi seseorang pada kondisi tidak tegang dan cenderung stabil pada saat kondisi santai dan tenang sehingga mudah menerima rangsangan (nasihat) dari pihak luar. Dalam hal ini bukan berarti menunda-nunda memberi nasihat, tetapi harus tahu diri dan mampu menempatkan diri.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Categories
Muamalah

Kehadiran anak

Kehadiran anak dalam keluarga

Kehadiran anak dalam keluarga merupakan suatu kebahagiaan yang tidak terkira. Sebab, di antara tujuan dibangunnya mahligai rumah tangga adalah untuk meneruskan keturunan (generasi) orang tuanya.

Oleh karena itu, ada sebagian orang tua berani membayar mahal, bahkan melakukan terapi apa saja untuk mendapatkan keturunan. Mereka menganggap bahwa hidup tidaklah indah tanpa kehadiran anak dalam keluarga.

Anak merpakan amanah yang diberikan Allah yang harus dijaga, dilindungi, disayangi, dan dididik agar menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Rasulullah saw bersabda :

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (bertauhid). Kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengamati sabda Rasulullah saw. di atas maka peran orang tua terhadap pembentukan karakter seorang anak sangatlah penting. Sayangnya, sebagian orang tua masa kini telah melupakan cara mendidik anak dengan bingkai-bingkai keagamaan. Apalagi perkembangan zaman yang diikuti oleh gaya hidup modern yang cenderung materialistis, membuat orang tua tidak lagi peduli dengan nilai-nilai keislaman.

Mendidik anak agar menjadi generasi yang shalih dan bermanfaat bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan perhatian penting dari orang tua dengan tinjauan dari berbagai aspek. Orang tua adalah pihak pertama dan utama dalam mengawal kehidupan anak-anaknya. Seolah-olah dikatakan bahwa anak yang baik dan buruk adalah sama-sama produk dari orang tuanya.

Dalam Islam cukup jelas perintah dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anaknya hingga kelak diharapkan menjadi pribadi yang unggul dan berakhlak mulia. 

Tugas orang tua kepada anak-anaknya.

Memberi nama yang baik

Salah satu kewajiban orang tua setelah anak lahir ke dunia adalah memberinya nama yang baik. Nama adalah doa. Nama yang baik akan memberi pengaruh psikologis pada anak, demikian juga nama yang buruk. Anak yang biasa dipanggil dengan nama panggilan Abdurrahman yang berarti hamba yang pemurah tentu berbeda dengan panggilan jahlun yang artinya bodoh sehingga ia mudah ditertawakan dan membuatnya rendah diri.

Melakukan aqiqah untuk anak

Secara bahasa, aqiqah berarti memutus (memotong). Ada yang menyebut aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih (dipotong). Menurut pendapat ulama, hukumnya sunah muakkadah. Banyak dalil yang menyebutkan anjuran aqiqah ini.  Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Menurut jumhur ulama, pelaksanaan aqiqah adalah hari ketujuh dari kelahiran. Namun, apabila terlewat dan tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, ia dapat dilaksanakan pada hari ke-14, ke-21, atau kapan saja ia mampu. Yang perlu diketahui bahwa prinsip ajaran Islam adalah memberi kemudahan, bukan kesukaran sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”” (QS al-Baqarah [2]: 185)

Mengkhitankan anak

Khitan berarti memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Dalam Islam, khitan merupakan bagian dari kesucian diri.  Rasulullah saw. bersabda,

“Fitrah itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalangan ulama berpendapat bahwa khitan wajib hukumnya bagi laki-laki, sementara bagi wanita sifatnya anjuran. Menurut Imam Nawawi, yang wajib dipotong pada wanita (saat khitan) adalah apa yang dikenal dengan sebutan kulit yang bentuknya seperti jengger ayam di atas saluran kencing. Pada umumnya, masyarakat mengkhitankan anaknya pada usia 6-11 tahun. Hal itu dipengaruhi oleh beragam tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Mengajarkan kelembutan 

Anak kecil yang lahir ke dunia diibaratkan seperti kertas putih yang kosong dan yang belum ditulisi, atau lebih dikenal dengan istilah Tabularsa (a blank sheet of paper). yang masih bersih dari noda. Dengan keadaan tersebut, sepatutnya orang tua mengisi nya dengan berperilaku lemah lembut terhadap mereka. Salah satu perilaku tersebut pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dengan memberi ciuman dan perlakukan istimewa kepada anak anak dan cucu-cucu beliau. Pada suatu hari Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali r.a. ketika ada al-Aqra bin Habis at-Tamimi di dekat beliau. Al-Aqra kemudian berkata, “Aku mempunyai sepuluh anak, tetapi aku tak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. kemudian memandangnya dan bersabda,

“Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi.”

Hindarkan dari pergaulan buruk

Pergaulan dengan orang di luar keluarga ibarat rumah kedua yang dapat membentuk karakter anak. Jika pergaulan itu dipenuhi oleh komunitas orang yang senang berbuat buruk, lambat laun anak akan terkontaminasi. Anak yang terbiasa bergaul dengan lingkungan yang suka berbuat maksiat, lambat laun anak akan meniru perbuatan kawannya. Oleh karena itu, tugas orang tua adalah mengarahkan agar anak dapat memilih pergaulan yang dapat memberi pengaruh positif bagi kehidupannya. Rasulullah saw. mengingatkan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mengenalkan agama dan tujuan hidupnya

Ketika anak sudah mampu mencerna mana hal yang baik dilakukan dan mana hal buruk yang harus ditinggalkan maka orang tua berkewajiban untuk mengenalkan anak kepada agamanya. Salah satunya adalah dengan mendirikan shalat. Rasulullah saw. berpesan,

“Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkan ia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukullah ia apabila meninggalkannya.” (HR Abu Dawud)

Mengenalkan pokok-pokok Islam sejak dini penting agar anak kelak memahami tujuan hidupnya saat ia dewasa. Setidaknya ia akan mengerti bahwa berada di alam dunia bukan untuk bersenang-senang dan menunggu ajal, tetapi ada tujuan mulia, yaitu penghambaan kepada Sang Pencipta.

Mendidik agar berbakti kepada orang tuanya

Pengorbanan orang tua kepada anak amatlah besar karena itu ada peribahasa yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang galah. Saat ibu mengandung selama sembilan bulan hingga mendekati kelahiran, nyawa ibu pun menjadi taruhannya. Oleh karena itu, di antara kewajiban orang tua yang utama adalah mendidik anak dan berbakti kepada mereka. Jangan sampai kelak dewasa anak menjadi sosok yang durhaka karena mengabaikan orang tuanya.

Tidak dimungkiri bahwa zaman globalisasi saaat ini banyak nilai kebajikan yang kian terkikis akibat pengaruh budaya yang sarat dengan virus kebebasan. Banyak anak yang lupa jasa orang tuanya. Bahkan, mereka selalu menuntut, tetapi enggan berbakti. Rasulullah saw. sampai mengingatkan sebagaimana yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa seseorang bisa masuk surga atau neraka sangat tergantung dari perlakuannya kepada mereka. Disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS Luqmān [31]: 14)

Memberi pendidikan yang bermutu

Beberapa dekade yang lalu jauh berbeda dengan saat ini dalam berbagai aspeknya. Apalagi kemajuan informasi dan teknologi yang mengalami lompatan begitu pesat. Selain memberikan bekal pendidikan agama yang memadai, orang tua hendaknya memberikan pendidikan bermutu yang terkait dengan ilmu duniawi kepada anak anaknya. Misalnya dengan menyekolahkan anak ke sekolah yang berkualitas, baik secara manajemen, sumber daya, fasilitas, maupun konsep pembelajaran di dalamnya. Jangan sampai orang tua memilihkan anaknya ke institusi yang di dalamnya terdapat pendidik yang tidak profesional atau lembaga pendidikan yang memiliki record buruk di masyarakat, seperti sekolah yang siswanya gemar narkoba dan tawuran.

Paling tidak, orang tua memahami misi dan visi institusi yang akan dipilihnya. Institusi (sekolah) yang bagus pasti memiliki misi dan visi jelas. Hal ini bisa diketahui lewat berbagai target-target pendidikan yang ingin dicapai, seperti spiritual (agama), akademis, ketrampilan, ataupun prestasi yang dihasilkan. Hindari terjebak pada sekolah yang hanya mengutamakan sisi akademis dan intelektual, sementara moralitas dan akhlak siswanya diabaikan.

Intitusi pendidikan yang bermutu, baik secara duniawi maupun ukhrawi akan memberi hasil yang baik pula pada anak dalam menjalani hidupnya di masa mendatang. Disebutkan dalam hadits,

“Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia maka ia harus mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menginginkan kebahagiaan akhirat maka ia harus mencapainya dengan ilmu, dan barang siapa menginginkan kebahagiaan kedua-duanya maka ia harus mencapainya dengan ilmu.” (HR Thabrani)

Memupuk akhlakul karimah

Akhlak seorang anak tidak terbangun secara tiba-tiba, tetapi sangat dipengaruhi oleh bentukan lingkungan keluarganya. Seperti bagaimana adab saat makan, adab saat bergurau, adab terhadap kakak atau adik, adab buang hajat, cara berbicara dengan orang yang lebih tua, dan masih banyak lagi. Semua akhlak tersebut hendaknya dipupuk, dibiasakan, dan dibudayakan sejak dini. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan akhlak yang tidak terpuji. Perintah Rasulullah saw. sebagaimana tertuang dalam hadits beliau,

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)

Memberi keteladanan

Orang tua hendaknya tidak hanya pandai memerintah, tetapi juga memberi keteladanan yang positif kepada anaknya. Diperintahkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff [61]: 2-3)

Misalnya orang tua menyuruh anaknya shalat maka mereka (orang tua) juga melakukannya. Saat memerintahkan anak untuk bershadaqah maka orang tua juga melakukan hal itu. Orang tua memeritahkan anak untuk berdoa saat makan maka orang tuanya juga melakukan hal yang sama. Jika orang tua mempraktikkan apa yang diperintahkan kepada anaknya, secara tidak langsung orang tua telah memberikan contoh yang baik terlebih dahulu. Hal itu kelak akan menguatkan jejak rekam bagi anak bahwa orang tuanya adalah pribadi yang layak jadi teladan dalam hidupnya.

Wallahu a’lam bish-shawabi