Categories
Akhlak

Emansipasi Wanita

emansipasi wanita

Menyikapi Emansipasi

Di era perkembangan zaman saat ini, kedudukan wanita makin penting dalam berbagai bidang kehidupan sehingga muncullah tuntutan yang mengharuskan adanya hak dan kewajiban yang sama antara kaum laki-laki dan wanita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). 

Sedangkan emansipasi wanita adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. 

Di Indonesia, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengingat perjuangan RA. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita

Salah satu persepsi publik paling popular adalah anggapan bahwa makna emansipasi wanita adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Makna emansipasi wanita sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum pria.

Kedudukan wanita dan laki-laki

Kedudukan wanita dan laki-laki telah dijelaskan secara komprehensif dalam Islam melalui Al-Qur’an. Islam sebagai rahmatan lil’alamin sejak dahulu telah mengangkat derajat wanita sebagai manusia yang mulia, sementara ukuran kemuliaan itu sendiri tercermin bukan pada aspek duniawi semata, tetapi utamanya menyangkut keimanan (ketakwaan)nya kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an,

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti,” (QS al-Hujurät (497: 13)

Di surah lain Allah juga menegaskan, “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl (16]: 97)

Beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa wanita memiliki posisi yang terhormat dalam Islam di berbagai aspek kehidupannya. Demikian agung kedudukan wanita hingga Allah menamakan salah satu surah dalam Al-Qur’an dengan nama an-Nisa’ yang artinya wanita. Dalam hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw, menganjurkan umatnya untuk berbakti kepada ibu-yang merupakan sosok wanita—3 kali dibanding seorang ayah. Bahkan, beliau juga menyebut tentang wanita-wanita yang menjadi ratu surga dalam beberapa kesempatan kepada para sahabatnya.

Label emansipasi yang berkembang dewasa ini memiliki batasan yang tidak boleh dicampuradukkan sehingga perlu penyikapan yang tepat tentang hakikat emansipasi yang sebenarnya. Konsep emansipasi wanita harus dilihat dari berbagai aspek, selain aspek terpenuhinya tuntutan atas hak-haknya juga harus dilihat aspek kewajibannya. Sebab, tidak sedikit konsep emansipasi yang seolah olah memperjuangkan kaum wanita, tetapi justru merendahkan kedudukan wanita. 

Berikut penjelasan tentang bagaimana akhlak wanita muslimah dalam menyikapi emansipasi yang berkembang dalam masyarakat.

Tetap menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ibu

Emansipasi bukanlah persamaan antara laki-laki dan wanita secara mutlak (absolut), tetapi tetap ada batasannya. Wanita tidak dilarang menuntut ilmu setinggi langit hingga menyamai kaum laki-laki. Wanita tidak dilarang menjadi manager perusahaan sebagaimana lazimnya dijabat oleh laki-laki. Wanita juga tidak dilarang menjadi orang kaya. Namun, dengan keadaannya itu, wanita tetaplah sosok yang memiliki tugas dan kewajiban yang terkait erat dengan martabat kewanitaannya. Misalnya, menjadi ibu yang mengasuh anak-anaknya dan melayani serta berbakti kepada suaminya selaku kepala rumah tangga. Semua tugas tersebut tidaklah gugur atas dasar apa pun termasuk dengan dalih emansipasi. 

Allah berfurman, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allan) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS an-Nisā’ [4]: 34)

Izin suami jika keluar rumah

Seorang istri yang baik adalah yang selalu menaati suaminya dalam bingkai yang benar. Artinya, tidak bertentangan atau melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya sekalipun terhadap sesuatu yang sifatnya kecil dan sepele seperti keluar rumah. Seorang istri hendaknya tetap meminta izin suami jika akan keluar rumah. 

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari Akhirat untuk keluar tiga hari ke atas melainkan bersama-sama bapaknya atau saudara kandung laki-lakinya atau suaminya atau anak laki-lakinya atau para mahramnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menutup aurat bagi yang sudah balig

Perkembangan tren fashion dewasa ini makin pesat. Hal itu dibarengi dengan munculnya beragam model busana yang ‘serba ada! Mulai yang menutup aurat hingga sekadar menutup bagian tubuh yang sensitif. 

Seorang muslimah hendaknya tidak melihat hal itu sebagai dalih untuk berpakaian sesuai selera. Jika para laki-laki bisa berpakaian bebas maka wanita pun berhak berpakaian secara bebas pula, bukan demikian. 

Parahnya alasan semacam itu dianggap sebagai bagian emansipasi wanita dalam hal berbusana. Padahal, menutup aurat bagi wanita yang sudah balig adalah wajib hukumnya. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS al-Ahzāb [33]: 59) »

Taat suami dalam kebenaran

Ketaatan seorang istri kepada suami adalah mutlak jika berada dalam kebenaran. Seorang istri hendaknya tidak menyelisihi suami meskipun memiliki tingkat pendidikan atau penghasilan yang lebih tinggi, bukan malah menolak (membangkang) dengan dalih emansipasi. Jika suami memerintahkan suatu kebaikan, seorang istri sepatutnya mematuhi. Itulah yang dikatakan Rasulullah saw. sebaik-baik wanita.

Ada yang bertanya kepada beliau, “Siapakah sebaik-baik wanita?” Beliau menjawab, “Yaitu yang menyenangkan apabila dilihat oleh suaminya, yang menaati apabila diperintah oleh suaminya, dan tidak menyelisihi dalam hal dirinya dan hartanya atas perkara yang dibenci oleh suaminya.” (HR Nasa’i)

Tidak mengubah kodratnya sebagai seorang wanita

Dalih emansipasi seringkali dijadikan tameng untuk menuntut persamaan dengan kaum laki-laki, termasuk dalam hal kodrat kewanitaan. Banyak wanita yang melupakan kodratnya sebagai makhluk yang lemah lembut dan pemalu. Bahkan, mereka banyak yang ingin menyamai kaum laki-laki dalam hal dandanan dan perilaku. Ada juga yang melakukan operasi atau tindakan medis agar bisa memiliki anatomi yang mirip dengan lawan jenisnya. Itulah yang dilarang oleh Islam. 

Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. (HR Bukhari)

Dalam hadits lain dikatakan, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat. Pertama, seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Kedua, wanita yang menyerupai laki-laki. Ketiga, suami (ayah) yang membiarkan kemungkaran dalam keluarganya.” (HR Nasa’i dan Ahmad) 1

Tidak bertingkah laku seperti orang jahiliah

Akar istilah jahiliyyah adalah bentuk kata kerja jahala, yang berarti menjadi bodoh, bersikap masa bodoh, atau tidak peduli. Pada masa jahiliyah martabat wanita memang sangat rendah karena tingkah laku mereka tidak mencerminkan nilai nilai kemuliaan. 

Mereka terbiasa membuka aurat di hadapan orang banyak (bukan mahram), bersuara kasar, berdandan agar dikagumi, berpesta pora, foya-foya, lesbi, hidup konsumtif, dan hedonis, serta tidak malu berbuat maksiat. 

Di negara-negara barat dan Eropa yang sekuler, konsep hidup jahiliyah semacam itu telah menjadi tren. Bahkan, para wanita memiliki hak absolut terhadap segala kondisi hidupnya. Andai telanjang di jalanan pun, mereka mengatakan bahwa itu adalah haknya, selama tidak merugikan orang lain, bukan masalah. 

Perilaku jahiliyah tersebut tentu tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari emansipasi, di mana wanita memiliki kebebasan untuk bertindak sesuka hatinya tanpa batasan moral. 

Allah memerintahkan, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu.” (QS al-Ahzāb [33]: 33)

Categories
Akhlak Muamalah

Arti Ghibah, Hukum dan Contohnya

Ghibah

Memahami Arti Ghibah

Arti ghibah adalah perbuatan menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Dalam istilah sehari-hari yang paling populer adalah menggosip. 

Lisan manusia bukanlah lisan burung beo yang tidak memahami apa yang diucapkannya. sebab lisan manusia digerakan oleh akal, hati, mata dan telinganya. Semua itu dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dikatakan, disaksikan dan dilakukannya.

Perkataan apa saja yang bisa menggambarkan arti ghibah? Ghibah adalah segala perkataan yang menyebutkan aib seseorang baik badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya dan lain lain

Allah Berfirman:

Dan Janganlah kami mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban (Q.S Al-Isra’ [17] 36)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gibah artinya kegiatan membicarakan keburukan orang lain. Bahan gunjingan tersebut mestilah sesuai dengan cela orang yang digunjingkan, jika dibuat-buat, maka bukan gibah lagi namanya, melainkan fitnah dan kebohongan

Istilah arti ghibah atau gibah secara etimologi berdasarkan Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi arti ghibah atau gibah dapat dipahami, arti ghibah atau gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan.

Ghibah (Gibah ) adalah membicarakan keburukan orang lain tatkala orang yang dibicarakan tidak ada. Dalam Al-Quran, membicarakan keburukan orang lain (saat orangmya tidak ada) digambarkan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Allah Berfirman 

Hari orang orang yang beriman, jauhilah berbagai prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?, Maka tentulah kami merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang  (Q.S Al-Hujarat [49] : 12)

Rasulullah SAW bersabda

Jabir bin Abdillah dan Abu Sa’ad al khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda 

“Gibah itu lebih kejam dari Zina” seorang sahabat bertanya “Bagaimana mungkin Wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab “Seseorang berzina kemudian bertaubat, niscaya Allah S.W.T akan menerima taubatnya. Adapun orang yang menggunjing tidak akan diampuni dosanya sampai orang yang digunjing memaafkannya.

Pengertian gibah di atas disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, ia berkata: 

“Tahukah kalian apa itu gibah?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Kemudian, beliau bersabda: 

‘Gibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci’. 

Ada yang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?’ 

Rasulullah menjawab: 

‘Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnahnya [mengucapkan suatu kedustaan],” (H.R. Muslim).

Apabila seseorang mengetahui aib atau kekurangan saudaranya baik moral, fisik, pakaian, keluarga maupun yang lainnya dan ini memang benar adanya, maka itu dinamakan ghibah. 

Abu Dard’a ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa yang menggunjing seorang muslim dengan perkataan, sedangkan pembicaraan itu tidak sesuai dengan sebenarnya, Allah SWT berhak menghancurkan tubuhnya di neraka pada hari kiamat kelak hingga perkataan terbukti (dan pasti, ini tidak mungkin bisa dibuktikan)

Rasulullah bersabda “Barang siapa memelihara kehormatan saudaranya, Allah SWT akan mengutus malaikat di hari kiamat untuk memeliharanya dari api neraka”

Contoh Ghibah dalam Kehidupan Sehari-hari

Terdapat banyak contoh gibah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ibu-ibu menggunjing selama acara arisan tentang tetangga-tetangganya. 

Di kasus lain, bapak-bapak membicarakan keburukan rekan atau koleganya sewaktu ngumpul bersama sambil munum kopi.

Gibah juga dapat terjadi saat murid  membicarakan keburukan guru atau dosen atau atasannya  di ruang kelas ketika sosok yang digunjingkan tidak berada di sana. atau bawahan saling membicarakan keburukan atasanya.

Selain itu, di masa sekarang, gibah dapat terjadi dalam pelbagai bentuk, misalnya melalui tayangan Infotainment di televisi, sampai dengan akun gosip di media sosial

Cara Menghindari Ghibah atau Gibah

1. Mengingat Kebaikan

Sebelum membicarakan keburukan seseorang, alangkah baiknya jika mengingat kebaikan orang tersebut terlebih dahulu. Maka, keinginan untuk membicarakan keburukan seseorang perlahan akan menghilang karena paham bahwa sebagai manusia biasa, pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk.

2. Berpikir Positif

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, seseorang akan menolak dengan perlahan dan khusnudzon atau berprasangka baik terlebih dahulu kepada orang yang akan dibicarakan tersebut.

3. Saling Mengingatkan

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, maka sebagai seorang muslim yang baik hendaknya mengingatkan teman bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.

4. Perbanyak Istighfar

Seorang muslim hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala dosa yang ia sengaja maupun tidak disengaja. Memperbanyak istighfar akan membuat seseorang senantiasa mengingat segala dosanya dan menghindari gibah.

5. Berkumpul dengan Orang Saleh

Tidak dapat dipungkiri jika pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari seseorang. Maka agar terhindar dari pergaulan yang salah, ada baiknya seorang muslim harus memilih dengan siapa ia berkumpul.

6. Menjaga Lidah dan Lisan

Seseorang dapat gibah karena dirinya tidak bisa menjaga lidah dan mulutnya untuk berkata sesuatu yang baik. Ketika tahu apa yang akan dibicarakan merupakan hal yang buruk, lebih baik tidak usah dikatakan, supaya terhindar dari bahaya lisan.

7. Menyadari Perbuatan yang Buruk

Agar tidak melakukan gibah, seseorang harus menyadari bahwa gibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah karena keburukan yang didapat tidak hanya pada orang yang menjadi bahan pembicaraan melainkan juga pada si pelaku gibah.

8. Intropeksi Diri

Intropeksi diri akan membuat seseorang merasa malu jika harus membicarakan keburukan orang lain sedangkan diri sendiri masih memiliki banyak kesalahan yang harus dibenahi.

“Hidup adalah tentang saling mengingatkan bukan saling menyalahkan.”

Categories
Akhlak Muamalah

Bacalah Agar Paham

reading

Tujuan membaca

Secara umum, tujuan membaca adalah untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui, atau untuk mencari dan memperoleh informasi. Maka perlu disadari bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, karena dengan membaca seseorang dapat menemukan sesuatu yang baru sehingga dapat memperluas wawasan dan pengetahuan pembaca.

Seperti yang kita tahu, membaca adalah jendela dunia yang membuka segala bentuk pengetahuan di dunia. Bayangkan jika kita terbiasa membaca, pastinya akan banyak hal yang kita peroleh. Selain itu, kebiasaan membaca juga dapat mengasah kecerdasan otak kita. Terbukti bahwa orang yang memiliki kebiasaan membaca pasti memiliki wawasan yang luas, hal itulah yang dapat menambah tingkat kecerdasan otak kita.

Bacaan adalah sumber informasi

Bacaan yang dimaksud di sini adalah sumber informasi yang dibaca, baik berupa buku, majalah, koran, media cetak, ebook maupun noncetak. 

Perintah pertama bagi umat muslim adalah iqra’  Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah saw adalah Surah al-‘Alaq 1-5, yang artinya

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sementara membaca buku atau bahan noncetak lainnya merupakan salah satu sarana menuntut ilmu.

Di negara maju kebiasaan membaca menjadi prioritas utama, bahkan menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Kebiasaan itu terbentuk karena telah terbangun paradigma bahwa membaca merupakan aktivitas yang penting bagi kehidupan manusia, sepenting makan dan minum.

Membaca telah mendorong seseorang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya dan mempelajari secara lebih mendalam sehingga memungkinkan memiliki ilmu pengetahuan, memperkaya intelektual, dan meningkatkan kesadaran mental dan spiritualnya.

Fakta orang yang gemar membaca

Faktanya, orang yang gemar mencari ilmu, pola pikirnya luas sehingga memiliki tujuan yang jelas dan fokus dalam hidupnya. Bukan seperti katak dalam tempurung, terkurung dalam ketidakberdayaan.

Sejarah kejayaan Islam menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan pernah mengalami perkembangan luar biasa dengan lahirnya tokoh terkemuka dunia, seperti Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, al-Dinawari, al-Khawarizmi, al-Ghazali, Jabir Ibnu Aflah, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi tokoh muslim yang berjasa di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena sejak dulu para ulama, sejarawan, dan ilmuwan muslim adalah mereka yang selalu gemar membaca buku dan mencari bahan bacaan yang bermanfaat. Bahkan, di zaman Rasulullah saw. para tawanan dibebaskan dengan syarat bersedia mengajar umat muslim yang buta huruf agar mampu membaca.

Agar apa yang dibaca dapat menambah ilmu, membawa keberkahan akal, dan bermanfaat bagi diri pribadi dan orang lain, berikut diterangkan tentang akhlak seorang muslim terhadap sumber bacaan yang dibacanya.

Niatkan membaca untuk mencari ilmu

Membaca bisa di mana saja dan kapan saja, termasuk ketika seorang muslim berada di toko buku atau di damana saja berada bisa dirumah, dimobil, di mall, di sekolah, dimasjid maupun di cafe dll.. 

Dalam membaca perlu meniatkan untuk mencari ilmu sehingga apa yang dibaca tersebut menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat, minimal bagi dirinya sendiri dan sebaik mungkin dapat bermanfaat dengan menyebarkannya kepada orang lain. Disebutkan dalam hadits, 

”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Thabrani)

Membaca bacaan yang bertema Ukhrawi

Selain membaca bacaan yang terkait dengan masalah duniawi, bacaan yang bertema ukhrawi adalah permasalahan yang sangat penting. Saat ini bacaan yang bertema agama atau keislaman sangat mudah didapat dengan harga yang relatif terjangkau. Seorang muslim perlu membaca bacaan yang berkaitan dengan ibadah, akhlak, dan ketauhidan sebagai bekal untuk akhiratnya. Mungkin saja seseorang tidak tahu bagaimana cara membayar zakat karena ia belum pernah membaca tentang kadar zakat dan nishabnya. Ia tidak pernah shalat Tahajud karena belum pernah membaca tata cara melakukannya.. Dengan membaca bacaan yang bertema keislaman akan memudahkan seorang muslim menjalankan ibadahnya dengan sempurna.

Menghindari bacaan yang berisi fitnah 

Perkembangan media cetak maupun noncetak sangat pesat dewasa ini. Sebab, akses informasi yang nyaris tidak terbendung, mencari berbagai bacaan yang bertema negatif ataupun positif sangat mudah didapat. Utamanya melalui media dunia maya yang nyaris bebas hambatan. Informasi apa saja dapat dengan mudah diakses. Apa pun medianya seorang muslim sepatutnya menjauhi bacaan yang berisi tentang fitnah dan adu domba, terutama yang berkaitan erat dengan keadaan kaum muslimin di wilayah tertentu ataupun dalam lingkup global. 

Budayakan membaca di lingkungan keluarga

Kegemaran membaca umumnya muncul jika di lingkungan keluarga kebiasaaan itu sudah ditumbuhkan sejak dini. Antara orang tua yang biasa membaca dan orang tua yang tidak menggemari membaca memiliki pengaruh terhadap aktivitas dan perkembangan membaca anak-anaknya. Oleh karena itu, salah satu usaha agar anak-anak sejak dini gemar membaca adalah kewajiban orang tua untuk membudayakannya di lingkungan keluarga. Orang tua memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk kebiasaan anak. Jika orang tua menggunakan perannya dengan memberikan contoh yang baik dalam hal membaca-kelak anak akan menjadi generasi pembaca yang andal.

Membagikan bacaan kepada orang lain

Memiliki bacaan yang bermanfaat adalah peluang dalam mendulang pahala. Selain untuk dirinya sendiri, yaitu dengan memahami dan mengamalkan isi yang dibacanya, pahala juga didapat jika bacaan tersebut dipinjamkan kepada teman, saudara, atau tetangga. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang mengajak ke arah kebaikan, ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka yang mencontohnya itu.” (HR Muslim)

Mewakafkan kepada lembaga Islam

Agar bacaan yang dimiliki dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas, seorang muslim bisa mewakafkannya kepada perpustakaan, masjid, atau lembaga tertentu yang memiliki minat (bersedia mengelola) bacaan yang akan diwakafkan. Itulah yang disebut amal jariah karena bacaan yang diwakafkan termasuk ilmu yang bermanfaat. Rasulullah saw. bersabda,

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu), shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR Muslim)

Seorang muslim akan selalu mendapat kiriman pahala meski sudah meninggal dunia selama bacaan yang diwakafkan memberi manfaat positif bagi siapa saja yang membacanya.

Wallahu A’lam Bishawab